M. Yusuf
Suasana lebaran dengan berbagai suguhan di meja mulai kue kering, minuman kemasan, coklat hingga permen menarik perhatian kita untuk dinikmati. Suguhan yang menarik tapi disisi lain ada unsur gula di dalamnya, jangan sampai berlebih dalam konsumsi sehingga menimbulkan masalah kesehatan. Gula pada dasarnya terbagi menjadi dua jenis, gula alami (gula yang terkandung makanan itu sendiri, seperti buah (fruktosa), susu (laktosa), madu, aren dan sebagainya; yang kedua adalah gula yang berasal dari pemanis buatan, seperti sakarin dan aspartame. Gula sering ditambahkan ke makanan untuk memperkuat cita rasa agar lebih enak, selain itu gula juga bisa digunakan untuk memperbaiki tekstur dan meningkatkan lama masa simpan, contohnya: selai, manisan dan dodol. Jangan dikira makanan yang rasanya gurih itu tidak ada gulanya, biasanya makanan yang gurih itu juga ditambahi gula pada saat pembuatannya.
Ketika orang mendengar kata gula, yang terlintas dalam pikiran sebagian orang adalah gula pasir, gula aren dan gula merah (jawa). Padahal ada gula yang tidak tampak jelas sebagai gula pasir dalam makanan, tetapi terkandung dalam berbagai produk olahan. Gula inilah yang disebut dengan gula tersembunyi dalam makanan. Gula yang tersembunyi dalam makanan harus diketahui terutama oleh penderita diabetes. Hal ini sangat penting diketahui agar tidak terjadi lonjakan dan ketidakstabilan kadar gula dalam darah padahal sudah minum obat dan menjaga pola makan. Lonjakan gula darah secara terus-menerus menyebabkan resistensi insulin dan meningkatkan risiko penyakit jantung yang serius, disamping itu gula berlebih diubah tubuh menjadi lemak sehingga memicu obesitas dan diabetes tipe 2. Anak-anak sangat rentan mengalami kelebihan gula dari minuman manis (jus, teh dan kopi) permen, dan jajanan tinggi gula lainnya (biskuit, wafer dan roti).
Cara terbaik untuk mengetahui jumlah gula yang terkandung dalam produk makanan adalah dengan melihat label informasi nilai gizi atau nutrision facts yang terdapat pada kemasan produk, jangan hanya dilihat desain gambar dan warnanya saja yang bagus dan menarik tetapi harus dilihat kandungan berapa nutrisi, lemak, gula dan garamnya. Dalam Peraturan Badan Pengawas Obat Dan Makanan Nomor 26 Tahun 2021 Tentang Informasi Nilai Gizi Pada Label Pangan Olahan, pada pasal 2 mencamtumkan bahwa Pelaku usaha yang memproduksi dan/atau mengedarkan Pangan Olahan wajib mencantumkan Informasi Nilai Gizi (ING) pada Label. ING minimal memuat jumlah energi total per sajian Berapa lemak jenuh, protein, karbohidrat, gula, garam (natrium). Batas konsumsi gula harian menurut rekomendasi Kementerian Kesehatan maksimal 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan per hari.
Apabila anda mengalami kesulitan membaca tentang informasi nilai gizi dan ingin berkonsultasi terkait diet gula, anda bisa memanfaatkan layanan Klinik gizi RS Radjiman Wediodiningrat Lawang. Pendaftaran online: https://daftar.rsjrw.id/ atau informasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor Wa 0822 2912 3385.
Sumber Referensi:
https://tabel-gizi.pom.go.id/informasi/detail?id=1
Sumber Gambar: Freepik