Noerul Ikmar, S.KM

 

Siapa di antara kita yang tidak pernah menggunakan media sosial? Rasanya tidak ada, ya. Penggunaan media sosial tentunya sudah tidak asing bagi kita. Apalagi di era mudahnya akses internet dalam satu genggaman saja. Bermain media sosial sudah seperti rutinitas harian yang tidak mudah dilewatkan oleh sebagian orang.

Media sosial memiliki fungsi sebagai platform untuk berbagai segala hal termasuk komentar, perasaan dan hal terbaru. Kebebasan berekspresi dalam media sosial membuat kita dengan mudah berbagi perasaan dan opini. Sebaliknya, kita juga dengan mudah menyerap informasi, perasaan dan emosi dari apa yang orang posting. Nah, dalam penggunaan media sosial, baiknya kita tahu efek-efek yang dapat kita rasakan ketika bermain media sosial.

Media sosial dapat menjadi perantara emosi melalui apa yang kita posting. Kita bisa tertular atau ikut merasakan emosi orang lain melalui media sosial. Misalkan postingan dengan berbau kesedihan, ketakutan atau kecemasan dapat menularkan emosi tersebut ke pembacanya. Postingan tersebut mempengaruhi kita, menjadi takut dan cemas sekaligus seperti apa yang digambarkan dalam postingan yang kita baca.

Menurut Yusainy dkk (2023), hal tersebut berlaku untuk postingan bernada negatif.  Tetapi anehnya postingan rasa bahagia atau puas tidak dapat menular ke pembacanya. Pembaca tidak dapat merasakan emosi yang sama ketika membaca postingan kecemasan atau kesedihan. Yang muncul malah menginginkan kepuasan atau kebahagiaan di postingan itu. Dan lebih parah, dikhawatirkan akan menimbulkan iri hati ketika melihat postingan tersebut. Keadaan tersebut ditakutkan akan menimbulkan efek kecemasan yang lainnya apabila kita tidak bijak dalam menggunakan media sosial.

Sebagai pengguna media sosial, ada baiknya kita memilah apa yang kita posting karena dapat memberikan efek kepada pengikut kita. Meskipun penggunaan media sosial pribadi kita merupakan hak kita sebagai pengguna, namun mengelola postingan dengan bijak akan menjadi nilai plus bagi pengguna. Apalagi postingan yang mengindikasikan adanya trigger tertentu misalnya kejadian bunuh diri, perundungan, dan hal negatif lainnya.

Begitu juga dengan postingan yang berbau kebahagiaan. Sebagai manusia sangat wajar apabila kita ingin membagikan sebuah pencapaian atau kesuksesan sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan. Tetapi alangkah lebih baik apabila kita tidak membagikan kebahagiaan secara berlebihan. Tentu saja, membagikan momen bahagia sewajarnya tetap lebih baik daripada membagikan momen kesedihan.

Lalu bagaimana yang perlu kita lakukan sebagai pengikut di media sosial? Kita bisa memulai dengan memilah akun-akun yang kita ikuti. Kita bisa memanfaatkan fitur mute atau bahkan memblokir hal-hal yang dapat memberikan efek negatif untuk kesehatan  jiwa kita. Kita dapat membatasi mengikuti berita atau tagar yang menimbulkan ketakutan atau kecemasan. Namun kebalikannya, kita harus lebih bijak dalam melihat postingan capaian, kebahagiaan dan kesuksesan orang lain. Meskipun kita tidak dapat ikut merasakan perasaan tersebut, setidaknya tidak timbul iri hati dan menginginkan hal serupa dalam jiwa kita.

 

Sumber Gambar:

https://www.freepik.com/free-vector/fomo-fear-missing-out-concept_9978558.htm

 

Referensi:

Yusainy, C., Fitria, I., Sarirah, T., Wicaksono, W., & Santosoputro, A. (2023). Not all# complaints are equally contagious: an Instagram experiment. The Journal of General Psychology, 1-13.