M. Yusuf

Mie instan merupakan salah satu makanan yang popular dan digemari masyarakat, selain enak rasanya, cara memasaknya juga praktis, murah dan mudah untuk mendapatkannya. Warung tradisional sampai supermarket hampir semua menjual mie instan karena memang permintaannya cukup tinggi dan praktis untuk mengatasi perut yang lapar. Berdasarkan survei yang dilakukan Jakpat, seperti ditulis Goodstats, sebanyak 60,7% orang Indonesia di atas 3 tahun mengkonsumsi mie instan 1 sampai 6 kali per bulan. Sementara itu, 32% dikategorikan sebagai konsumen reguler yang mengonsumsi dua hingga tiga kali dalam sebulan. Hanya sebanyak 4 persen yang mengonsumsi mi instan sekali sebulan atau lebih jarang.

Tak hanya pengganjal rasa lapar, mie instan bahkan sering dijadikan makanan pokok bagi sebagian orang. Jika kita mengamati barang belanjaan masyarakat di keranjang atau troli di pusat perbelanjaan rata-rata ada mie instan didalamnya. Saking gemarnya makan mie sampai sekali makan langsung 2 bungkus atau ukuran jumbo. Ada juga yang makan mie instan ditambah nasi tanpa sayur dan sumber protein, sehingga ada istilah sudah makan karbo ditambah karbo. Hal ini disebabkan oleh rasanya yang nikmat dan bisa membuat perut kenyang. Sayangnya, terlalu banyak makan mie instan bisa memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan.

Terlalu sering mengonsumsi mie instan ternyata memiliki risiko lebih besar untuk mengalami masalah sindrom metabolik. Sindrom metabolik ini bisa meningkatkan risiko terkena penyakit hipertensi, jantung, diabetes, stroke dan ginjal. Berdasarkan penelitian Yuliana Santi dkk tentang hubungan Riwayat Konsumsi Mie Instan terhadap Kejadian Hipertensi di Prolanis Kecamatan Ungaran didapatkan hasil bahwa ada hubungan konsumsi mie instan terhadap kejadian hipertensi pada pasien Prolanis Puskesmas Ungaran. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam bisa meningkatkan risiko terkena masalah tekanan darah tinggi. Keberadaan garam dalam jumlah yang sangat tinggi tak hanya akan membuat tekanan darah naik. Hal ini akan meningkatkan tekanan darah dan risiko terkena batu ginjal. Tak hanya memicu sensasi nyeri saat buang air kecil, masalah kesehatan ini bisa menurunkan fungsi ginjal dengan signifikan.

 

Kebiasaan sering makan mie instan juga dapat menyebabkan obesitas, kalori yang tinggi dan rasa yang nikmat seringkali membuat mie instan seolah-olah cemilan yang membuat kangen untuk makan lagi. Apabila ini dituruti akan memicu peningkatan berat badan, apalagi ditambah kurang aktifitas atau mager (habis makan tidur atau main HP). Kandungan bahan kimia yang ada di dalam mie instan ternyata bisa memicu kerusakan pada hati. Jika hal ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan memicu datangnya penyakit hati hingga menurunkan fungsinya untuk menetralisir racun di dalam tubuh.

Mie instan agak sulit dicerna oleh perut kita, proses pengolahannya bisa berlangsung lama sehingga membuat perut akan merasakan sensasi tidak nyaman. Selain itu, jika sering mengonsumsinya dalam jangka panjang, maka akan menyebabkan tubuh sering terpapar bahan kimia berbahaya berupa hidrokasinol serta t-butil hidrokuardon. Bahan pengawet ini bisa menyebabkan datangnya gangguan pencernaan dan diare. Bahkan, hal ini bisa saja memicu kekacauan produksi insulin dan kadar gula darah.

Mie instan merupakan makanan yang enak, mudah didapat dan cara memasaknya juga praktis, tetapi jika terlalu sering mengkonsumsinya juga tidak baik dan menimbulkan masalah Kesehatan. Untuk itu kita harus bijak dengan membatasi frekuensi konsumsi mie untuk menjaga kesehatan kita.

 

Referensi: 

https://repository2.unw.ac.id/595/1/S1_010115A002_ARTIKEL.pdf

https://umkm.go.id/news/w9e8qgv8rlu7igda6gr3gju1

 

Sumber Gambar: Freepik