Alek Gugi Gustaman, SKM
Konsep kesehatan jiwa mencakup banyak aspek kehidupan seseorang. Kesehatan jiwa seseorang lebih dari sekadar tidak adanya penyakit mental; Ini juga mengacu pada keadaan makmur yang memungkinkan mereka untuk mencapai potensi penuh mereka dalam berbagai bidang kehidupan (Pardede, 2022). Ini termasuk memiliki tubuh yang kuat dan sehat; perkembangan intelektual yang mencakup kapasitas untuk belajar dan pertumbuhan kognitif; dan perkembangan emosional yang positif, yang mengacu pada kemampuan orang untuk mengendalikan emosi mereka dan mempertahankan keseimbangan emosional yang stabil.
Namun, interaksi seseorang dengan dunia juga merupakan cerminan dari kesehatan jiwanya. Ini mencakup kapasitas untuk menciptakan koneksi yang sehat dan signifikan dengan orang lain di tingkat pribadi, sosial, atau profesional. Seseorang dengan kesehatan jiwa yang kuat lebih cenderung dapat berbicara dengan jelas, menemukan solusi untuk masalah, dan memberikan kontribusi konstruktif untuk kelompok sosialnya. Selain itu, mereka percaya diri dan mampu mengatasi tekanan dan tanggung jawab kehidupan sehari -hari.
Dalam situasi ini, sangat penting untuk menyadari bahwa kesehatan jiwa tidak hanya mempengaruhi individu tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Orang dengan kesehatan jiwa yang baik biasanya memberikan lebih banyak kepada masyarakat, membantu kemajuan sosial, dan asuh lingkungan yang menumbuhkan kemakmuran untuk semua.
Akibatnya, interaksi sosial dan harmoni dengan orang lain menjadi komponen penting dari gagasan kesehatan jiwa. Ini menunjukkan bahwa untuk terhubung dengan lingkungannya dengan cara yang menumbuhkan kemakmuran kedua belah pihak, seseorang harus dapat mengembangkan diri mereka dengan potensi penuh mereka. Akibatnya, kesehatan jiwa mencakup tidak hanya individu tetapi juga membuat dampak yang baik pada masyarakat dan lingkungan (Suwardiman, 2023).
Sedangkan menurut WHO, konsep kesehatan ialah sebuah keadaan yang mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan. Dalam konteks definisi ini, kesehatan jiwa atau jiwa menjadi unsur yang sangat penting, yang terpadu dalam konsep kesehatan secara keseluruhan. Dengan kata lain, kesehatan dalam arti sejati tidak dapat dicapai tanpa kesehatan jiwa yang baik (Pinilih et al., 2020).
Lebih jauh, UU RI no. 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa menjelaskan bahwa Kesehatan jiwa ialah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut mampu menyadari kemampuan dirinya sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi positif untuk komunitasnya (Kurniawati, 2023).
Ada tiga pemikiran utama yang harus dipahami untuk meningkatkan pemahaman tentang kesehatan. Pertama, kesehatan jiwa tidak dapat dipisahkan dari kesehatan secara keseluruhan; kesehatan jiwa ialah komponen penting dari konsep kesehatan yang lebih luas. Kedua, kesehatan jiwa bukanlah hanya ketiadaan penyakit mental, melainkan mencakup aspek positif seperti kesejahteraan mental. Dan ketiga, kesehatan jiwa memiliki keterkaitan yang erat dengan kesehatan fisik dan perilaku individu.
Dengan kata lain, kesehatan jiwa bukan hanya mengenai ketiadaan gangguan mental, tetapi juga tentang kemampuan individu untuk mengatasi stres, bekerja secara produktif, serta berkontribusi positif untuk masyarakatnya. Maka, kesehatan jiwa merupakan dasar penting bagi kesejahteraan individu dan efektivitas fungsi dalam kehidupan, baik pada tingkat individu maupun komunitas, sesuai dengan pemahaman yang diungkapkan oleh WHO.
PENGERTIAN GANGGUAN JIWA
Gangguan jiwa ialah suatu kondisi yang kompleks, terdiri dari berbagai masalah dan gejala yang seringkali menyebabkan perubahan signifikan dalam berpikir, emosi, dan perilaku individu. Kondisi ini seringkali mengakibatkan penderitaan psikologis dan interferensi yang signifikan terhadap kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik (Arhan & As, 2023).
Karakteristik utama dari gangguan jiwa ialah adanya perubahan yang mencolok dalam pemikiran, perasaan, dan tindakan individu. Kondisi ini seringkali menjadi hambatan yang mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, hubungan keluarga, dan kesejahteraan fisik seseorang. Gangguan jiwa bisa dipicu oleh respons maladaptif terhadap berbagai stresor yang berasal dari lingkungan, baik yang berasal dari luar (eksternal) maupun yang berasal dari dalam diri individu (internal).
Penting untuk dicatat bahwa gangguan jiwa dapat memengaruhi siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, lokasi geografis, tingkat pendapatan, status sosial, ras, etnis, agama, orientasi seksual, latar belakang budaya, atau faktor-faktor lainnya. Tidak ada batasan tertentu yang membedakan siapa yang dapat terkena gangguan jiwa. Kondisi ini dapat muncul pada berbagai tahap kehidupan, dan menurut data, tiga perempat dari semua kasus gangguan jiwa pertama kali muncul saat individu berusia 24 tahun.
Namun, sangat penting untuk memahami bahwa banyak individu yang mengalami gangguan jiwa seringkali enggan mengungkapkannya atau mencari bantuan. Mereka mungkin merasa malu atau tidak nyaman mengakui bahwa mereka sedang menghadapi gangguan jiwa. Namun, penting untuk dipahami bahwa gangguan jiwa ialah kondisi medis yang dapat diobati, sama seperti penyakit jantung atau diabetes. Mengenali dan mengatasi gangguan jiwa ialah langkah yang penting untuk mencapai kesehatan jiwa yang optimal dan memungkinkan seseorang untuk hidup dengan lebih baik. Dengan dukungan dan perawatan yang tepat, banyak orang yang mengalami gangguan jiwa dapat mengatasi masalah tersebut dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.
Gangguan jiwa merupakan sekelompok kondisi medis yang mencakup berbagai gangguan seperti skizofrenia, psikosis, depresi, demensia, gangguan afektif bipolar, retardasi mental, serta gangguan tumbuh kembang, termasuk autisme. Faktor-faktor yang berperan dalam timbulnya gangguan jiwa tidak terbatas hanya pada disfungsi dalam pengelolaan pikiran, emosi, perilaku, dan interaksi sosial seseorang. Sebaliknya, faktor-faktor ini mencakup aspek-aspek yang lebih luas dalam kehidupan seseorang, termasuk hal-hal yang bersifat sosial, budaya, ekonomi, dan politik, serta faktor-faktor lingkungan yang mencakup kebijakan nasional, perlindungan sosial, standar kehidupan, kondisi pekerjaan, dan dukungan masyarakat.
Selain faktor-faktor tersebut, ada elemen-elemen lain yang juga memiliki peran penting dalam terjadinya gangguan jiwa. Stress yang berkepanjangan, misalnya, dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan gangguan jiwa. Begitu juga dengan aspek nutrisi yang tidak seimbang dan risiko infeksi perinatal pada masa awal kehidupan. Bahkan, paparan berulang terhadap bahaya lingkungan tertentu juga dapat meningkatkan risiko gangguan jiwa.
Dengan demikian, gangguan jiwa ialah masalah kompleks yang melibatkan berbagai aspek dalam kehidupan seseorang dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Memahami keragaman faktor-faktor yang dapat memicu atau memperburuk gangguan jiwa ialah langkah awal yang penting dalam upaya pencegahan dan pengelolaan yang lebih baik terhadap gangguan jiwa ini.
PENGERTIAN MASALAH PSIKOSOSIAL
Psikososial, dalam konsepsi yang lebih luas, merujuk pada kompleksitas hubungan antara faktor-faktor psikologis dan sosial yang berperan dalam kehidupan individu. Pengertian ini melibatkan pengakuan bahwa baik aspek psikologis (seperti perasaan, pemikiran, dan perilaku) maupun aspek sosial (interaksi dengan orang lain, lingkungan sosial, dan faktor eksternal) sangat terkait dan saling memengaruhi dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang (Imelisa et al., 2021).
Sebagian besar perkembangan psikologis berasal dari dalam diri individu, seperti perkembangan identitas, kompetensi, dan kesejahteraan emosional. Sebaliknya, aspek sosial datang dari luar individu, termasuk pengaruh lingkungan, budaya, keluarga, dan masyarakat. Maka, kita dapat memandang psikososial sebagai jaringan dinamis yang terus berinteraksi dan berubah seiring waktu.
Salah satu aspek penting dalam pemahaman tentang psikososial ialah keterkaitannya dengan perubahan. Perubahan psikososial merujuk pada dampak yang timbul dari peristiwa-peristiwa signifikan dalam kehidupan seseorang, seperti stres, trauma, atau perubahan sosial. Perubahan ini dapat memengaruhi kondisi psikologis dan sosial individu secara bersamaan, dan dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan masalah kesehatan jiwa.
Pemahaman akan pentingnya pemulihan psikososial muncul dari pemahaman bahwa individu yang mengalami gangguan psikososial memerlukan perhatian khusus untuk menjaga stabilitas emosional, produktivitas, dan kesejahteraan mereka. Kehidupan setiap individu penuh dengan berbagai perubahan, dan respons terhadap perubahan ini dapat mencakup reaksi psikososial yang bervariasi.
Adanya gangguan psikososial dapat mencakup berbagai karakteristik, seperti kecemasan yang berlebihan, ketakutan, marah, kesulitan berkonsentrasi, keraguan diri, perasaan marah, agresi, dan reaksi fisik seperti palpitasi, otot yang tegang, dan sakit kepala. Gangguan ini juga dapat meliputi gejala seperti gangguan berbicara, halusinasi, gangguan kognitif, dan gangguan hubungan personal (Pardede, 2022).
Selain itu, tanda-tanda kecemasan yang terus-menerus, tanpa alasan yang jelas, serta perasaan yang tidak nyaman, dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan individu. Gangguan psikososial dapat memengaruhi motivasi belajar, meningkatkan beban psikologis, dan merangsang reaktivitas stres.
Penting untuk diingat bahwa pengaruh psikososial dapat bervariasi dan kompleks, dengan respons individu terhadap perubahan yang berbeda-beda. Maka, pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor psikologis dan sosial yang memengaruhi kesehatan jiwa merupakan langkah pertama yang penting dalam memberikan perawatan dan dukungan yang sesuai untuk individu yang mengalami masalah psikososial.
KARAKTERISTIK JIWA YANG SEHAT
Menurut informasi yang disampaikan oleh Kemenkes, seseorang yang memiliki kesehatan jiwa yang baik dapat dikenali melalui sejumlah karakteristik utama (Pinilih et al., 2020). Kesehatan jiwa yang baik, yang merupakan fondasi penting dari kesejahteraan individu, dapat dibedakan menjadi tiga komponen utama:
1. Kesehatan Jiwa yang Menerima Diri Sendiri
Dalam aspek ini, seseorang yang memiliki kesehatan jiwa yang baik akan mampu menerima dirinya apa adanya. Ini mencakup kemampuan untuk mengatasi perasaan-perasaan, baik yang bersifat negatif maupun positif, dengan cara yang seimbang. Mereka juga memiliki harga diri yang sehat, tidak merendahkan atau menyombongkan diri, dan mampu menerima kehidupan mereka dengan baik. Seseorang dengan kesehatan jiwa yang baik dapat memahami bahwa setiap individu memiliki kelemahan dan kelebihan mereka sendiri, dan ini ialah hal yang wajar dalam kehidupan.
2. Kesehatan Jiwa yang Berkaitan dengan Orang Lain
Kesehatan jiwa yang baik juga tercermin dalam kemampuan individu untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Ini termasuk kemampuan untuk memberikan dan menerima kasih sayang, tanpa adanya tindakan curang atau pengkhianatan. Selain itu, individu dengan kesehatan jiwa yang baik juga memiliki rasa kepercayaan yang kuat terhadap orang lain, tidak meremehkan pendapat atau pandangan orang lain, dan mampu menjadi anggota yang berkontribusi dalam kelompok sosialnya. Mereka memahami pentingnya saling mendukung dalam hubungan interpersonal.
3. Kesehatan Jiwa yang Terarah dan Bertanggung Jawab
Bagian ketiga dari kesehatan jiwa yang baik mencakup kemampuan individu untuk menjalani kehidupan dengan arah yang jelas. Ini mencakup memiliki tujuan hidup yang realistis, kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat, rasa tanggung jawab terhadap tindakan dan keputusan mereka, serta kemampuan untuk menjalani pekerjaan mereka dengan rasa senang dan kepuasan. Seseorang dengan kesehatan jiwa yang baik akan memiliki visi yang jelas tentang tujuan mereka dalam hidup dan akan berusaha untuk mencapainya dengan tekun dan penuh semangat.
Dengan memahami tiga komponen utama kesehatan jiwa ini, individu dapat lebih fokus pada upaya untuk meningkatkan kesehatan jiwa mereka. Ini melibatkan pengembangan kemampuan untuk menerima diri sendiri, membangun hubungan yang positif dengan orang lain, dan mengelola kehidupan mereka dengan penuh tujuan dan tanggung jawab. Kesehatan jiwa yang baik merupakan landasan bagi kehidupan yang seimbang dan bermakna.
HAL-HAL YANG BERDAMPAK PADA KESEHATAN JIWA
Kesehatan jiwa atau kesehatan psikologis bukanlah sesuatu yang hanya ditentukan oleh faktor-faktor internal individu semata. Faktanya, kesehatan jiwa juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti keadaan sosial ekonomi dan lingkungan di mana seseorang hidup. Menurut WHO, ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan saat membicarakan faktor-faktor yang berkontribusi pada kesehatan jiwa dan kesejahteraan seseorang (Kurniawati, 2023).
1. Karakteristik dan perilaku individu
Karakteristik dan perilaku individu mencakup hal-hal seperti kecerdasan emosional dan sosial yang dimiliki oleh seseorang. Ini mencakup kemampuan seseorang untuk mengatasi perasaan dan pemikiran mereka sendiri, serta cara mereka berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Kecerdasan emosional berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola emosinya, sementara kecerdasan sosial berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan dunia sosial di sekitarnya. Ada juga faktor genetik yang dapat memengaruhi karakteristik dan perilaku individu. Misalnya, kelainan kromosom seperti sindrom Down atau cacat intelektual yang disebabkan oleh faktor-faktor yang terjadi selama kehamilan atau saat kelahiran.
2. Keadaan sosial dan ekonomi
Keadaan sosial dan ekonomi individu memiliki dampak besar terhadap risiko masalah kesehatan jiwa yang mungkin mereka hadapi. Lingkungan sosial seseorang dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan keluarga, teman, dan rekan kerja mereka, serta kemampuan mereka untuk mencari nafkah untuk diri mereka dan keluarga. Selain itu, faktor ekonomi, seperti terbatasnya peluang pendidikan, tingkat pendapatan, serta stres yang terkait dengan pekerjaan dan pengangguran, dapat memberi kontribusi pada masalah kesehatan jiwa.
3. Keadaan lingkungan
Lingkungan sosial, budaya, dan geopolitik tempat individu tinggal juga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan jiwa mereka. Hal ini mencakup akses mereka ke layanan dasar seperti air bersih dan pelayanan kesehatan, serta aturan hukum yang berlaku. Lingkungan juga dapat memengaruhi keyakinan sosial, budaya, sikap, atau praktik individu. Selain itu, kebijakan ekonomi yang diterapkan di tingkat nasional, seperti krisis keuangan global, juga dapat berdampak pada kesejahteraan jiwa individu.
Menurut WHO, penting untuk diingat bahwa kesehatan jiwa dan gangguan mental pada umumnya dipengaruhi oleh aspek-aspek eksternal seperti faktor sosial, ekonomi, dan fisik tempat individu tinggal. Semua faktor ini dapat memengaruhi kesehatan jiwa seseorang dan menjadi sumber stres yang memengaruhi individu tersebut. Dalam kondisi yang sehat, individu mampu mengatasi stresor ini dan mempertahankan pikiran positif tanpa terlalu banyak tekanan fisik dan psikologis (Kurniawati, 2023).
PENYEBAB GANGGUAN JIWA
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan gangguan jiwa. Pertama, faktor psikologis dapat berperan sebagai pemicu gangguan jiwa. Hubungan antara peristiwa hidup yang mengancam, seperti pengalaman traumatik, dapat menjadi stresor yang berpotensi menyebabkan gangguan jiwa seseorang. Kondisi psikologis seseorang dapat terpengaruh dalam jangka waktu yang lama, terutama saat seseorang kesulitan untuk melupakan pengalaman traumatik tersebut. Jika seseorang tidak mampu mengatasi stresor ini, maka dapat berakibat pada timbulnya gejala-gejala dalam aspek kejiwaan, baik dalam bentuk gangguan jiwa ringan maupun berat (Missesa, 2021).
Selanjutnya, faktor genetik juga memiliki peran penting dalam munculnya gangguan jiwa. Penelitian yang dilakukan oleh Mawaddah et al. (2020), mengenai analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian gangguan jiwa di Desa Sumbertebu Mojokerto menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara faktor genetik dengan kejadian gangguan jiwa. Temuan riset ini sejalan dengan pandangan Pebrianti (2021), yang menyatakan bahwa faktor genetik memiliki kaitan yang erat dengan gangguan jiwa, terutama gangguan persepsi sensori dan gangguan psikotik.
Selain faktor psikologis dan genetik, faktor lingkungan juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap munculnya gangguan jiwa. Ada hubungan erat antara kondisi sosial dan lingkungan sebagai stresor psikososial dengan timbulnya gangguan jiwa (Mawaddah et al., 2020).
Terakhir, konsep holistik elektik juga merupakan pandangan yang relevan tentang penyebab gangguan jiwa. Holistik elektik memandang manusia sebagai satu kesatuan integral dari unsur-unsur organobiologik, psikoedukatif, dan sosiokultural. Dari ketiga unsur ini, gangguan jiwa dapat terjadi, yang berarti bahwa gangguan jiwa memiliki penyebab yang bersifat multifaktorial (holistik). Faktor-faktor lainnya yang turut berperan sebagai penyebab gangguan jiwa dianggap sebagai faktor tambahan (elektik) (Nurhaeni et al., 2022). Konsep holistik elektik ini menggambarkan bahwa gangguan jiwa muncul karena adanya faktor-faktor dasar atau predisposisi yang umumnya berhubungan dengan faktor organobiologik atau psikoedukatif, dan faktor ini kemudian dipicu oleh faktor stresor sosial yang berperan sebagai faktor presipitasi (Pebrianti, 2021).
Dengan demikian, gangguan jiwa ialah hasil dari interaksi yang kompleks antara faktor-faktor psikologis, genetik, lingkungan, dan unsur-unsur holistik elektik yang saling berhubungan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai penyebab gangguan jiwa memerlukan pendekatan yang komprehensif dan beragam.
JENIS GANGGUAN JIWA
Gangguan jiwa, sebagai entitas yang kompleks, memiliki dua kategori utama yang membedakan manifestasi dan penyebabnya. Dalam kategori pertama, yaitu gangguan psikiatrik organik, gangguan jiwa dapat berakar dari masalah fisik, seperti karsinoma, gangguan endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya yang memengaruhi fungsi organ-organ tubuh. Selain itu, gangguan ini juga dapat muncul akibat penggunaan zat psikoaktif seperti alkohol dan obat-obatan terlarang.
Di dalam kategori kedua, yaitu gangguan fungsional, gangguan jiwa lebih berfokus pada aspek psikologis dan emosional. Gangguan-gangguan ini, pada dasarnya, dapat dibagi menjadi dua subkategori yang berbeda. Pertama, terdapat psikosis, yang mencakup kondisi seperti skizofrenia, gangguan mood, dan gangguan psikotik lainnya. Pada gangguan ini, individu mungkin mengalami disorganisasi dalam pemikiran, delusi, halusinasi, dan terkadang perilaku yang aneh.
Kemudian, ada neurosis, yang mencakup gangguan seperti gangguan obsesif kompulsif, fobia, dan sebagainya. Neurosis ialah bentuk gangguan jiwa yang lebih ringan dibandingkan dengan psikosis. Gangguan neurosis biasanya terkait dengan masalah konflik batin yang belum terselesaikan dan mempengaruhi emosi seseorang. Gejalanya mungkin termasuk kecemasan, fobia, obsesi, dan depresi.
Dalam mengkategorikan gangguan jiwa ini, Nurhaeni et al. (2022), membedakan dua kelompok utama. Pertama ialah gangguan jiwa berat, yang sering disebut sebagai psikosis. Psikosis ialah jenis gangguan jiwa yang serius dan dapat disebabkan oleh faktor organik atau emosional. Gejala psikosis meliputi gangguan kemampuan berpikir, respons emosional, komunikasi, daya ingat, persepsi, dan tindakan sesuai dengan realitas, yang semuanya sangat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Kedua, ada gangguan jiwa ringan, yang disebut sebagai neurosis. Neurosis ialah penyesuaian emosional yang salah karena individu mengalami konflik batin yang belum terselesaikan. Berdasarkan gejalanya, neurosis dapat dibagi menjadi berbagai jenis, termasuk neurosis cemas, neurosis histerik, neurosis fobik, neurosis obsesif kompulsif, dan banyak lainnya. Gejala-gejala ini mungkin melibatkan kecemasan yang berlebihan, kelelahan, insomnia, dan depresi.
Selain itu, ada juga gangguan mental emosional, yang merupakan bagian dari spektrum gangguan jiwa yang berkaitan dengan perubahan emosional dan mental. Gangguan ini tidak selalu disebabkan oleh kelainan organik otak tetapi seringkali disebabkan oleh perubahan emosi atau tekanan psikologis. Gangguan ini dapat berkisar dari masalah mental yang lebih ringan hingga gangguan yang lebih serius jika tidak ditangani dengan baik.
Dalam kasus tertentu, gangguan mental emosional dapat terjadi pada siapa saja, namun, mereka memiliki potensi untuk pulih jika mereka mampu mengatasi konflik yang mendasarinya atau mencari bantuan dari fasilitas kesehatan jiwa. Gangguan ini dapat memengaruhi fungsi individu dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan dalam masyarakat umum. Beberapa contoh gangguan mental emosional meliputi depresi dan gangguan kecemasan, yang seringkali terjadi di dalam masyarakat.
Sebagai tambahan, gangguan jiwa berat seperti skizofrenia dan gangguan psikosis seringkali menjadi masalah kesehatan jiwa yang umum ditemui di masyarakat. Skizofrenia, misalnya, ialah gangguan jiwa yang serius yang mempengaruhi fungsi pikiran seseorang, mengakibatkan disorganisasi dalam isi pikiran, termasuk gejala delusi dan waham, serta gangguan persepsi dalam bentuk halusinasi atau ilusi. Semua gangguan jiwa ini mencerminkan kompleksitas dan diversitas kondisi mental yang dapat memengaruhi individu dalam berbagai cara.
KARAKTERISTIK GANGGUAN JIWA
Seseorang yang mengalami gangguan jiwa yang parah mengalami sejumlah perubahan yang signifikan dalam perilaku dan persepsinya. Hal ini mencakup hilangnya kontak dengan realitas, munculnya perilaku yang tidak lazim, serta munculnya waham dan halusinasi. Selain itu, individu yang mengalami gangguan mental emosional juga mengalami penurunan fungsi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan (Pebrianti, 2021).
Gejala-gejala yang dapat menyumbang terhadap gangguan mental emosional mencakup pemikiran untuk mengakhiri hidup, kehilangan kemampuan untuk menjalankan aktivitas-aktivitas yang memberikan makna dalam kehidupan, kesulitan dalam menikmati aspek-aspek sehari-hari, perasaan tidak berharga, dan gangguan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari (Mawaddah et al., 2020).
Dalam konteks gangguan jiwa yang lebih berat, seperti gangguan psikotik dan skizofrenia, terdapat sejumlah gejala yang dapat diamati, termasuk delusi, waham, halusinasi, ilusi, serta perilaku yang aneh atau bizzare (Missesa, 2021).
Selain itu, menurut Mawaddah et al. (2020), terdapat berbagai tanda dan gejala yang berkaitan dengan gangguan jiwa. Ini termasuk gangguan kognitif, yang melibatkan proses-proses mental seperti sensasi, persepsi, ingatan, asosiasi, pertimbangan, pikiran, dan kesadaran. Gangguan perhatian, ingatan, asosiasi, pertimbangan, dan pikiran juga dapat muncul. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa juga bisa mengalami gangguan kesadaran, kemauan, emosi, afek, serta psikomotor.
Semua tanda dan gejala ini mencerminkan kompleksitas gangguan jiwa, dan memahami mereka ialah langkah pertama dalam memberikan bantuan yang tepat kepada individu yang mengalami gangguan jiwa. Ini juga menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam tentang kesehatan jiwa dan bagaimana keluarga dapat memberikan dukungan yang efektif kepada anggota keluarganya yang membutuhkannya.
FUNGSI DAN TUGAS KELUARGA
1. Fungsi Keluarga dalam Kesehatan Jiwa
Fungsi keluarga dalam konteks kesehatan jiwa sangat penting. Keluarga ialah entitas sosial yang memiliki peran utama dalam membentuk kesehatan jiwa anggotanya. Beberapa gambaran umum tentang fungsi keluarga dalam kesehatan jiwa ialah sebagai berikut:
a. Pendewasaan Kepribadian
Keluarga memainkan peran sentral dalam membantu anggotanya tumbuh dan berkembang secara pribadi. Ini mencakup pembentukan nilai-nilai, norma, dan sikap yang akan membentuk kepribadian individu.
b. Pelindung dan Pemberi Keamanan
Keluarga ialah tempat di mana anggota merasa aman dan terlindungi. Ini mencakup pemberian dukungan emosional, perlindungan fisik, serta rasa nyaman yang sangat penting untuk kesehatan jiwa.
c. Fungsi Sosialisasi
Keluarga juga berperan dalam melatih anggotanya untuk berinteraksi dengan keluarga lain dan masyarakat. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan membangun hubungan sosial penting dalam pemahaman kesehatan jiwa.
2. Tugas Keluarga dalam Mengatasi Masalah Kesehatan Jiwa
Tugas keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa mencakup sejumlah tanggung jawab yang sangat penting untuk mendukung kesejahteraan mental dan emosional anggotanya. Tugas-tugas ini meliputi:
a. Mengenal Adanya Penyimpangan Awal
Keluarga harus memiliki pemahaman tentang tanda-tanda awal gangguan kesehatan jiwa. Dengan mengetahui gejala-gejala ini sedini mungkin, keluarga dapat memberikan dukungan dan mencari bantuan yang tepat.
b. Mengambil Keputusan dalam Mencari Pertolongan
Keluarga harus dapat berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan terkait perawatan dan bantuan kesehatan untuk anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Keputusan ini mencakup pemilihan jenis terapi atau intervensi yang sesuai.
c. Memberi Perawatan dan Dukungan
Ketika anggota keluarga mengalami sakit mental, cacat, atau memerlukan bantuan dalam mengatasi keadaan darurat kesehatan jiwa, keluarga harus memberikan dukungan fisik dan emosional. Ini mencakup pengawasan dan perawatan yang diperlukan.
d. Menciptakan Lingkungan Keluarga yang Sehat
Keluarga juga bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan jiwa. Ini termasuk menciptakan suasana yang positif, komunikasi terbuka, serta memberikan dukungan emosional satu sama lain.
e. Memanfaatkan Sumber di Masyarakat
Keluarga dapat mencari dukungan dan sumber daya yang tersedia di masyarakat, seperti dukungan kelompok, klinik kesehatan jiwa, dan layanan sosial, untuk membantu dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa.
Dengan memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam menjaga kesehatan jiwa anggotanya, keluarga dapat menjadi sumber dukungan yang kuat dalam menghadapi tantangan yang terkait dengan masalah kesehatan jiwa.
PERAN KELUARGA DALAM MENCEGAH GANGGUAN JIWA
Peran keluarga dalam mencegah gangguan jiwa memiliki beberapa dimensi penting yang perlu ditekankan. Keluarga tidak hanya merupakan unit sosial yang mewadahi individu-individu, tetapi juga sebuah wadah yang dapat membentuk lingkungan yang sehat secara psikologis bagi anggotanya.
1. Menciptakan Lingkungan Yang Sehat Jiwa Bagi Anggota Keluarga
Salah satu aspek utama dalam peran keluarga ialah menciptakan dan memelihara lingkungan yang kondusif bagi kesehatan jiwa. Ini mencakup memastikan bahwa anggota keluarga merasa aman, nyaman, dan didukung secara emosional.
2. Saling Mencintai, Menghargai, dan Mempercayai Antar Anggota Keluarga
Kesuksesan keluarga dalam mencegah gangguan jiwa juga melibatkan interaksi positif antara anggota keluarga. Ini mencakup memberikan cinta, penghargaan, dan kepercayaan antar satu sama lain sebagai dasar utama dalam menjaga kesehatan jiwa.
3. Saling Membantu dan Memberi Antar Anggota Keluarga
Keluarga yang kuat ialah yang saling mendukung. Ketika ada anggota keluarga yang menghadapi tantangan atau kesulitan, yang lain dapat memberikan bantuan, baik dalam bentuk dukungan emosional maupun praktis.
4. Saling Terbuka dan Tidak Ada Diskriminasi
Lingkungan keluarga yang mencegah gangguan jiwa ialah yang terbuka dan bebas dari diskriminasi. Ini berarti bahwa setiap anggota keluarga dapat berbicara tentang perasaan dan masalah mereka tanpa takut dihakimi atau dibuat merasa tidak diinginkan.
5. Memberi Pujian dan Hukuman yang Sesuai dengan Perilaku
Penghargaan positif dan konsekuensi yang sesuai dengan perilaku juga merupakan bagian penting dalam mendidik anggota keluarga. Ini membantu mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang positif.
6. Menghadapi Ketegangan dengan Tenang dan Menyelesaikan Masalah Secara Tuntas
Konflik dalam keluarga ialah hal yang wajar, tetapi bagaimana konflik tersebut diatasi memainkan peran besar dalam kesehatan jiwa. Keluarga yang mampu menghadapi ketegangan dengan tenang dan menyelesaikan masalah secara tuntas akan memberikan contoh positif kepada anggota keluarga lainnya.
7. Menunjukkan Empati Antar Anggota Keluarga
Kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan anggota keluarga yang lain ialah kunci untuk menciptakan ikatan yang kuat dalam keluarga. Ini menciptakan rasa koneksi emosional yang dalam.
8. Membina Hubungan dengan Masyarakat
Keluarga juga harus berperan dalam membangun hubungan yang sehat dengan masyarakat di sekitarnya. Ini bisa melibatkan interaksi yang positif dengan tetangga, teman-teman, dan komunitas lokal.
9. Menyediakan Waktu untuk Kebersamaan, Seperti Rekreasi Bersama Antar Anggota
Menghabiskan waktu bersama dalam kegiatan rekreasi atau kegiatan keluarga lainnya ialah cara yang baik untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga. Hal ini juga memberikan kesempatan untuk bersenang-senang bersama dan meredakan stres.
Dengan memahami peran keluarga dalam mencegah gangguan jiwa dalam kerangka yang lebih luas, kita dapat lebih efektif dalam menjaga kesehatan jiwa keluarga serta mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang positif pada setiap anggotanya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, M., Pulungan, Z. S. A., & Hardiyati, H. (2019). Psikoedukasi meningkatan peran keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa. Jurnal Keperawatan, 11(3), 191–198.
Anwar, I. C. (2023). Info Data Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia Tahun 2023. Tirto.Id. https://tirto.id/info-data-kesehatan-mental-masyarakat-indonesia-tahun-2023-gQRT
Arhan, A., & As, A. A. A. (2023). Pendampingan Keluarga Dalam Perawatan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melalui Inovasi Bijanta (Bulukumba Integrasi Kesehatan Jiwa Terpadu). JCS, 5(1).
Arifin, S. D., Kurniawan, D., & Marwati, E. (2020). Implementasi Program Kesehatan Jiwa Di Upt Puskesmas Soasio Kota Tidore Kepulauan. Jurnal Serambi Sehat, 13(1), 21–34.
Cahyanti, A. (2020). Peran Keluarga dalam Membentuk Kesehatan Mental Remaja di Kelurahan Yosorejo 21 A Metro Timur. IAIN Metro.
Imelisa, R., Kep, M., Roswendi, A. S., CHt, S. K. M. P. H., Wisnusakti, K., & Ayu, I. R. (2021). Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikososial. Edu Publisher.
Jayanti, D. M. A. D., Ekawati, N. L. P., & Mirayanti, N. K. A. (2021). Psikoedukasi keluarga mampu merubah peran keluarga sebagai caregiver pada pasien skizofrenia. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, 16(1), 1–7.
Kardiatun, T., Bhakti, W. K., Ramadhaniyati, R., Ariyanti, S., & Wahyuni, T. (2019). Penyuluhan kesehatan tentang kesehatan jiwa usia muda (remaja) pendekatan keluarga dan agama sebagai preventif psychosocial trauma. Celebes Abdimas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2), 90–95.
Kurniawati, K. I. (2023). Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan kesehatan jiwa remaja awal di MTs Negeri 2 Karanganyar. Universitas Kusuma Husada Surakarta.
Maulana, I., Suryani, S., Sriati, A., Sutini, T., Widianti, E., Rafiah, I., Hidayati, N. O., Hernawati, T., Yosep, I., & Hendrawati, H. (2019). Penyuluhan Kesehatan Jiwa untuk Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat tentang Masalah Kesehatan Jiwa di Lingkungan Sekitarnya. Media Karya Kesehatan, 2(2).
Mawaddah, N., Sari, I. P., & Prasetya, A. (2020). Faktor Predisposisi dan Presipitasi Terjadinya Gangguan Jiwa Di Desa Sumbertebu Bangsal Mojokerto. Hospital Majapahit (Jurnal Ilmiah Kesehatan Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto), 12(2), 116–123.
Missesa, M. M. (2021). Faktor Penyebab Gangguan Jiwa pada Klien di Poli Jiwa RSJ Kalawa Atei Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Forum Kesehatan: Media Publikasi Kesehatan Ilmiah, 11(2), 46–57.
Nurhaeni, A., Marisa, D. E., & Oktiany, T. (2022). Peningkatan pengetahuan tentang gangguan kesehatan mental pada remaja. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan (Jirah), 1(1), 29–34.
Pardede, J. A. (2022). Koping Keluarga Tidak Efektif Dengan Pendekatan Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa.
Pebrianti, D. K. (2021). Penyuluhan Kesehatan tentang Faktor Penyebab Kekambuhan Pasien Skizofrenia. Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK), 3(3), 235–239.
Pinilih, S. S., Handayani, E., Shelviana, E., Rositasari, E., & Aziz, M. (2020). Peningkatan Kesehatan Jiwa Melalui Peran Kader Menuju Kelurahan Siaga Sehat Jiwa. Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal, 3(2), 115–122.
Qonita, F. N., Salsabila, N. A., Anjani, N. F., & Rahman, S. (2021). Kesehatan pada Orang Lanjut Usia (Kesehatan Mental dan Kesehatan Fisik). Jurnal Psikologi Wijaya Putra, 2(1), 10–19.
Rizal, F., & Muttaqin, M. H. (2021). Peran keluarga terhadap penyembuhan pasien skizofrenia paranoid di unit rawat jalan badan layanan umum daerah Rumah Sakit Jiwa Aceh. Jurnal Sains Riset, 11(3), 568–574.
Rokom. (2021). Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis - media/20211007/1338675/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia/
Rosidin, U. (2023). Peranan Keluarga Dan Masyarakat Pada Odgj (Orang Dengan Gangguan Jiwa).
Suwardiman, D. (2023). Peran Penting Keluarga dalam Menjaga dan Merawat Individu yang Mengalami Gangguan Jiwa. Faletehan Health Journal, 10(02), 216–221.